Berita Inforamsi Bola Terbaru 2022
Tinjau KKHI, Naib Amirul Hajj Puji Kerja Petugas Kesehatan Layani Jemaah | Mentan SYL Sampaikan Duka Mendalam Atas Kepergian Tjahjo Kumolo | Telkom Kembali Raih The Grand Stevie Award for Organization of The Year | Kementan: Gerakan Disinfeksi Nasional untuk Penanganan PMK | Video Dugaan Pungli di Terminal Tirtonadi Viral di TikTok, Ini Kata Gibran | Wamenaker Saksikan MoU Penempatan Tenaga Kerja Indonesia ke Jepang | Telkom Sumbang Perangkat Komputer dukung Digitalisasi Pendidikan SLBN Pangkalpinang | Lacak HP Korban, Polisi Akhirnya Ringkus Pembunuh Sadis Wanita di Tangsel | Hasil Autopsi, Wanita Tewas di Indekos Serpong Ada 9 Luka Tusukan dan Sayatan | Data Jemaah Haji Wafat di Tanah Suci per 23 Juni 2022 | Judi Online Pakai Dana BPJS Rp618 Juta, Bendahara Satpol PP Ditetapkan Tersangka | Demi Beli iPhone, Perempuan di Aceh Nekat Curi Emas | Mentan SYL Ajak Negara-Negara di Dunia Tekan Food Loss and Waste | Honda Mulai Pembangunan Pusat Produksi Mobil Listrik di China | Cegah Risiko Penyakit Kronis, BPJS Kesehatan Ajak Peserta Lakukan Skrining Kesehatan |
Home Sitemap Cari disclaimer Contack Me  

5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT

Oleh : Rista Simbolon (Via POPMAMA.COM ) | Diterbitkan 1 month ago | Short link: https://lazoid.com/9836726

Bagikan Ke : Facebook Twitter


Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap kali terjadi pada perempuan. Meski begitu, korban KDRT lebih memilih bertahan meskipun mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pasangannya. 

Hal ini lantaran, korban terjebak dalam siklus atau pola yang dibuat oleh pelaku KDRT. Mereka bertahan dengan harapan bahwa suatu saat keadaan akan membaik. Namun, tidak ada jaminan suaminya bisa berubah dan berhenti melakukan tindak kekerasan.

Nah, berikut beberapa alasan lainnya kenapa perempuan tetap bertahan dalam pernikahan yang penuh KDRT. Kali ini Popmama.com telah merangkumnya dari berbagai sumber.

Yuk Ma, disimak!

1. Percaya bahwa pasangannya masih mencintainya

Freepik/drobotdean

Siklus KDRT berawal dari konflik rumah tangga lalu terjadi kekerasan sebagai bentuk hukuman atau pelampiasan emosi. Setelahnya, pelaku jadi merasa bersalah dan minta maaf pada korban. Di titik inilah biasanya mereka menggoyahkan keyakinan istrinya. 

Setelah permintaan maaf yang tampaknya tulus tersebut, rasanya sulit untuk tetap marah dan membenci suaminya. Mereka percaya bahwa pasangannya masih mencintainya.

Padahal, ada kemungkinan besar tindakan kekerasan tersebut akan berlanjut. 

2. Menganggap kalau dirinya yang bersalah

Freepik

Para korban biasanya berpikir bahwa dirinya yang pantas disalahkan atas perilaku kasar suaminya. Oleh karenanya, saat terjadi pertengkaran, mereka memilih mengalah atau menuruti keinginan pasangannya.

Belum lagi para pelaku KDRT biasanya sangat manipulatif. Mereka mencoba membuat korbannya berpikir bahwa mereka pantas mendapat perlakuan ini.

Pelaku biasanya mengatakan sesuatu seperti, "Hal ini tidak akan terjadi kalau sejak awal kamu mau nurut dan tidak membantah!"

Padahal, terlepas dari kesalahan apapun yang Mama perbuat, rasanya tidak pantas untuk memberikan hukuman dengan kekerasan fisik.

3. Merasa kalau kejadian ini yang terakhir

Pexels/Liza Summer

Setelah menerima perlakuan kasar, hal ini bisa terasa sangat membingungkan. Terutama jika kejadian ini adalah yang pertama. Mama mungkin tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya, sehingga hanya bisa pasrah pada keadaan.

Perlu diketahui bahwa jika seseorang berperilaku kasar sekali, kemungkinan besar mereka cenderung akan melakukannya lagi.

4. Masih berharap suaminya akan berubah

Freepik

Setelah terjadi kekerasan yang berulang kali, korban tampaknya masih punya sedikit harapan bahwa suaminya hanya melakukan kesalahan dan khilaf semata.

Hal ini lantaran, para pelaku cenderung memanipulasi istrinya dengan berbagai janji-janji manis yang mengatakan bahwa mereka akan berubah. Mereka juga melakukan hal-hal manis untuk menebus kesalahan dan berpura-pura seolah kekerasan tersebut tidak pernah terjadi.

5. Takut dengan pembalasan dari pelaku

Freepik

Sangat wajar untuk merasa takut saat memutuskan untuk keluar dari pernikahan penuh KDRT. Korban mungkin merasa tidak aman dan takut, sebab pelaku bisa saja berbuat hal-hal yang akan mencelakai istrinya atau diri mereka sendiri.

Selain itu, tak mudah untuk berjuang sendiri agar bisa lepas dari siklus KDRT ini. Perlu ada dukungan dari orang sekitar untuk mendampingi.

Nah Ma, itulah beberapa alasan kenapa perempuan tetap bertahan dalam pernikahan penuh KDRT. Yuk, beri dukungan untuk semua korban KDRT, mereka pantas untuk merasa aman dan bahagia.


5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT | Bang Naga | on 12:06:46pm Minggu 3 Juli 2022 | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: 5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT
Description: 5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT
Alamat: https://lazoid.com/news/9836726-5-alasan-perempuan-tetap-bertahan-dalam-pernikahan-penuh-kdrt.html
Artikel Terkait















Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+


Tempo LIPUTAN DAIRI CNN Zodiak
© 2017 - 2022 lazoid.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved


DMCA.com Protection Status


Page loads : seconds